Sunday, 12 December 2010

Aku, Diriku dan Tentangku (Bagian I)




-Belajar Buat Berbagi-


Siang hari pada hari Kamis pertengahan Pebruari 2010…

Aku sedang bersiap memasuki ruang kelas XII di salah satu SMA elite di kawasan kota Gresik, jadwal hari ini adalah bimbingan pendalaman Bahasa Inggris untuk persiapan UNAS 2010. Lesson plan, alat bantu ajar serta photo copy materi untuk mengajar hari ini tentu saja sudah kupersiapkan dari rumah sejak kemarin sehabis pulang kuliah pada malam harinya. Sebagai seorang mahasiswa berusia 21 tahun memang aku tergolong masih sangat muda untuk mengajar di institusi pendidikan setingkat sekolah menengah atas. Tapi bukan berarti usia muda belia seperti aku ini tidak bisa mengajar dan aku rasa tidak percuma aku lulus mata kuliah TEFL (Teaching English for Foreign Language), Micro Teaching dan Teaching Learning Strategy dengan nilai yang cukup memuaskan. Wehehe :) Buktinya dengan bekal kemampuan mata kuliah yang telah diajarkan itu beserta nilai mata kuliah lain yang terangkum dalam transkrip nilaiku, aku bisa diterima bekerja dan menjadi salah satu staff pengajar dan ditugaskan mengajar di sekolah ini.
Siang yang terik, tapi kumantapkan langkah memasuki kelas yang berada di pojokan tepatnya disamping taman sekolah yang dilengkapi air mancur berhiaskan patung ikan arwana diatasnya. Kutaruh tas ranselku yang berat karena berisikan banyak dokumen, seperti; lembar penilaian siswa, novel, beberapa komik, berkas skripsi, makalah tugas kuliah dan laptop diatas meja guru. Aku segera beranjak dan berdiri di depan kelas untuk mulai menyampaikan salam pembuka kepada murid-muridku. Kulihat wajah mereka begitu tampak lelah dan tak bersemangat. Kutanya salah satu siswi di bangku terdepan sebelah kiriku kenapa dia dan teman – teman sekelasnya tidak bersemangat seperti biasanya. Dia menjawab “kita sudah lelah dengan banyaknya bimbingan dan pelajaran yang diberikan pak. Otak ini memorinya sudah full” katanya lugas. Aku telah menemukan jawabannya! Perasaan jenuh itulah yang membuat mereka bersikap seperti itu. Sebagai seorang pendidik aku harus dituntut secara cepat berpikir dan tepat menentukan langkah apa yang harus dilakukan untuk menghadapi chaos seperti yang aku hadapi pada saat itu. Salah satu metode yang pernah aku pelajari di bangku kuliah adalah memberikan Ice Breaker pada mereka untuk memecahkan kebuntuan dan kejenuhan di kelas. Aku putuskan untuk memberikan beberapa game di kelas yang akan aku ajar ini. Setelah melakukan beberapa simple game akhirnya aku bisa sedikit mengatasi masalah ini, setidaknya aku telah berhasil mengukir sesungging senyum di wajah mereka dan membuat mereka bersemangat belajar kembali.
Melihat murid-muridku tersenyum semangat bercanda tawa seperti itu pikiranku sempat melayang sejenak membayangkan masa – masa SMA ku dulu, ketika aku menjadi siswa di salah satu sekolah swasta di pusat kota. Tepatnya 4 tahun lalu ada satu cerita diantara ribuan cerita di masa indah SMA ku yang paling aku ingat. Ketika dulu aku masih berseragam putih abu- abu, aku termasuk salah satu murid yang bandel dan suka telat berangkat sekolah. Hobi telatku bukan karena aku tidak bisa bangun pagi, bahkan aku selalu berangkat pagi-pagi dikarenakan agenda wajib sebelum masuk gerbang sekolah adalah mampir ke warung kopi dulu dan membaca koran mencari halaman yang memberitakan tentang kabar sepak bola terbaru. Setelah itu, karena keasyikan nyangkruk, tak jarang adanya ketika menginjakkan kaki di halaman sekolah setelah puas dari warung kopi, pintu gerbang sekolah kutemukan telah tertutup rapat dengan gembok besar mengunci engsel-nya. tapi ya yang namanya anak bandel harus punya jiwa pantang menyerah serta punya motto yang sengaja (disalah kaprahkan) “lebih baik telat daripada tidak masuk sama sekali” tetep aja aku nekat naik pagar sekolah secara diam-diam. “Yes! Akhirnya berhasil juga masuk” ujarku saat aku berhasil melompati pagar tinggi sekolahku, tapi yang dinamakan sial pun gak lari kemana. Tetap aja ketahuan guru piket. Walhasil bukannya masuk kelas malah kena omel di kantor guru. Hhe.. tidak lupa hukuman pun diberikan, rambutku yang agak gondrong dan kuberi sedikit warna (biar gaul) kena imbasnya juga. Kres.. Kres.. dipotonglah rambut yang tiap hari kukeramasin itu. “Asem nih.., bakalan jelek nih rambutku kena petal” batinku saat itu. Dalam keadaan rambut compang-camping aku masuk kelas dan bisa ditebak seisi kelas begemuruh menyambutku karena penampilan baruku itu. Si Entong teman sebangkuku pun dengan semangatnya berteriak ngomando teman-teman agar tambah rame kasih tepukan tangan dihiasi kata-kata makian khas anak SMA. “Habis kena patroli satpol PP ta coyy?” kata Kopet temenku yang paling lugu. “Kamprettt nih, bukannya simpati dengan penderitaanku malah ngatain” umpatku dalam hati.
Tiba-tiba bayanganku pada masa-masa SMA itu dibuyarkan oleh pertanyaan muridku yang duduk paling belakang “Pak, kita akan belajar apa hari ini?” agak sedikit terbata mengatur ritme gesture aku menjawab “oke guys, sesuai SKL (Standar Kompetensi Lulusan) UAN Bahasa Inggris 2010, kita akan mempelajari dan menganalisa jenis-jenis teks” dengan sigap aku mulai bercerita di depan kelas layaknya seorang pendongeng handal untuk menceritakan sebuah cerita dan menyuruh murid dikelasku untuk menebak kira-kira jenis teks apakah yang aku ceritakan. Pada waktu itu aku bercerita tentang seorang tua dari Medan bernama Poltak yang merantau ke Surabaya. Entah karena ceritanya yang lucu atau gaya penceritaanku yang menarik, mereka semua tampak antusias dan banyak dari mereka yang tertawa terpingkal-pingkal menyimak ceritaku yang satu ini. “Do you know what kind of story was it?” aku mengajukan pertanyaan kepada mereka setelah ceritaku ku akhiri. mendengar pertanyaanku ini hampir semua murid-muridku mengacungkan tangannya untuk berusaha menjawabnya. “Recount text pak!” kata muridku yang hitam manis di bangku kedua dari kanan. “Narrative itu jawabannya!” timpal muridku yang cantik mirip artis yang duduk di bangku keempat dari sisi kiri. Melihat antusiasme mereka aku menjadi semakin semangat membagikan ilmu kepada mereka, karena ini merupakan hal yang luar biasa dan hal yang sulit adanya merubah keadaan yang awalnya malas tak ada gairah buat belajar menjadi semangat kembali. Hanya butuh waktu kurang lebih 10 menit bagiku untuk merubah keadaan berbalik 180o seperti pada siang tersebut tetapi butuh waktu lebih dari 3 tahun bagiku untuk mempelajari bagaimana aku bisa melakukan hal semacam ini dengan semudah itu.
Yah.. selama kurun waktu 3 tahun aku mempelajari teknik mengajar secara efektif di bangku kuliah dan mempertajamnya dengan aktif bergabung menjadi anggota Himpunan Mahasiswa Bahasa Inggris disana. Sesungguhnya aku tidak pernah berangan-angan menjadi guru dan mengajar Bahasa asing ini di depan kelas karena membayangkan aku bisa lancar cuap-cuap berbahasa Inggris saja merupakan hal yang sangat mustahil aku lakukan selama aku menjadi murid sekolah dulu karena aku tergolong orang yang sangat malas buat mempelajari segala sesuatu yang bersifat menghafal, pikirku dulu untuk bisa ngomong bahasa bule aku harus hafal kamus yang tebal banget itu, apalagi ada kamus yang berjudul “Kamus lengkap 2 Milyar”, tambah ngeri aja dan sangat malas bagiku untuk membuka kamus apalagi membacanya. Tapi rencana Allah berkata lain, aku malah terjerumus dalam dunia pendidikan Bahasa Inggris karena aku kuliah masuk jurusan FKIP (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan) Bahasa Inggris di salah satu universitas swasta 10 besar unggulan di Jawa Timur ini. Pada semester awal kuliah inipun aku masih “Plonga-Plongo” tidak paham sama sekali apa yang dikatakan bapak Dosen di depan forum perkuliahan. Ada salah satu kisah yang menarik menurutku, pada saat aku mengikuti mata kuliah Dictation yakni pada masa awal semester perkuliahan dulu aku disuruh Ibu Dosen menulis angka 1 sampai 10 di buku tulis dan hasilnya karena tidak tahu English at all angka 5 yang seharusnya tertulis “Five” malah ku tulis menjadi menjadi “Vaif”. Hha.. Apa gak tambah minder saja aku bergaul dengan teman-teman yang kemampuannya jauh lebih baik daripada aku di kelas. Tapi Puji syukur, sekarang aku bisa melewati masa perkuliahan selama 7 semester ini dengan baik dan aku berusaha dengan tekun belajar dan coba praktek dengan teman-teman untuk speaking English untuk memperbaiki kompetensi bahasa internasional ini aku berusaha melakukan berbagai cara, salah satunya dengan ngomong sendiri depan cermin atau dengan HPku yang punya fitur video recording aku coba rekam omonganku sendiri mirip orang kurang waras. Hhe.. Tapi Alhamdulillah, Allah menunjukkan kuasanya, setelah kurang lebih 3 tahun kuliah, Indeks Prestasiku pada semester 7 ini akumulasinya bisa mencapai 3,60 (dengan skala 4,00) dan karena hal ini, untuk sementara aku bisa berprestasi akademik Cumlaude. Kalian pasti bertanya kenapa aku bisa berubah sedemikian itu? Jawabannya adalah; CINTAILAH APA YANG KAMU LAKUKAN karena “If you like the work you are doing, it is not work”. Hal ini kembali menuntunku untuk kembali mengingat, Betul juga kata orang “benci bisa dengan mudah menjadi cinta” malah sekarang aku bersyukur bisa menjadi aku yang sekarang ini. Aku bisa bekerja sebelum lulus dan jangan ditanyakan rasanya ketika kita bisa mendapat uang dari hasil kerja sendiri. Pastinya seneng banget dong.. iya kan? Sementara itu, motivasi lainnya bagiku untuk menjadi pendidik adalah karena dalam Islam dikatakan “ilmu yang bermanfaat adalah salah satu amalan anak manusia yang pahalanya tidak akan pernah terputus walau kita telah tiada”. . .

(To be continue . .)

No comments:

Post a Comment